Abstrak
Internet saat ini bukanlah menjadi milik sekelompok orang saja namun telah menjadi milik dari semua orang. Setiap orang saat ini dapat dengan mudah terhubung ke jaringan internet melalui berbagai perangkat yang dimiliki. Perkembangan teknologi yang sangat pesat juga telah mendukung terciptanya penemuan dan cara – cara baru dalam melakukan segala sesuatu, termasuk dalam berbisnis. M-commerce adalah suatu cara baru dalam melakukan kegiatan berbisnis di mana dengan bantuan suatu aplikasi mobile, baik yang terhubung ke jaringan internet maupun tidak, seseorang dapat dengan mudah mengatur dan mengelola kegiatan bisnis yang dijalankannya. Trend m-commerce saat ini terus berkembang dan diprediksikan akan menjadi suatu trend yang akan dilakukan oleh setiap orang. Oleh karena itu, aplikasi – aplikasi penunjang kegiatan m-commerce terus dilahirkan sesuai dengan tuntunan dan perkembangan dunia bisnis yang ada.
Kata kunci : internet, perangkat mobile, aplikasi mobile.
I. Pendahuluan
Tanpa disadari saat ini dunia sedang bergerak menuju masa di mana informasi tidak tertutup lagi dan dapat diakses dari masa saja. Akses menuju ke jaringan internet semakin mudah terjangkau. Perangkat mobile seperti handphone atau smartphone (hampir seluruhnya) menyimpan potensi yang sangat besar untuk mendukung pergerakan ke arah tersebut. Berselancar di dunia maya tidak lagi hanya sebatas dapat dilakukan dengan duduk di depan komputer baik di rumah maupun di kantor atau warnet, tetapi dengan perangkat mobile yang kita pegang saat ini juga sudah dapat digunakan untuk tujuan tersebut. Sebut saja aplikasi jejaring social seperti Facebook yang saat ini hampir pasti terdapat dalam semua handphone ataupun smartphone.
Melihat potensi yang sangat besar ini maka para pengembang aplikasi mobile kemudian berlomba – lomba untuk memasarkan kreativitas mereka dengan menciptakan aplikasi – aplikasi yang dapat mendukung keperluan seseorang dalam perangkat mobile. Salah satunya adalah dengna menciptakan aplikasi mobile untuk keperluan berbisnis. Kata berbisnis dalam hal ini mencakup hal yang sangat luas, mulai dari hanya sekadar bertukar – tukaran informasi dan harga barang, mengamati perkembangan trend pasar, hingga memantau perkembangan suatu barang atau komoditi. Oleh karena itu, kehadiran akan aplikasi mobile ini sangat dinantikan oleh banyak pengembang bisnis yang ingin menjalankan dan mengembangkan usahanya.
Di Indonesia sendiri mungkin hanya segelintir orang yang betul – betul paham mengenai aplikasi mobile untuk keperluan berbisnis ini. Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, aplikasi mobile untuk bisnis adalah suatu aplikasi yang tertanam dalam perangkat mobile dan dapat digunakan untuk membantu menjalankan dan megembangankan keperluan bisnis seseorang apa pun itu bentuknya. Mungkin banyak orang yang kurang ataupun bahkan tidak tahu mengenai aplikasi – aplikasi mobile tersebut, misalnya aplikasi mobile jejaring sosial (Facebook, Twitter, Linkedln), aplikasi mobile pemantau komoditi dan saham (Bloomberg mobile, Mobile RSS Feeds), maupun mobile commerce dan mobile banking (KlikBCA). Namun sadarkah kita bahwa hanya sekadar SMS ataupun chatting merupakan layanan mobile vital untuk keperluan bisnis. Hal ini pun tidak dapat dipungkiri karena kebutuhan yang berbeda – beda dari tiap – tiap orang. Namun apapun itu bentuknya, kebutuhan akan perangkat mobile adalah kebutuhan vital bagi setiap orang saat ini.
II. Latar Belakang

Pada awalnya, perangkat mobile device hanya dapat digunakan tidak lebih dari sekadar menelpon atau menerima dan mengirim pesan teks yang singkat. Hal ini disebabkan karena keterbatasan teknologi pada saat itu. Namun dunia saat ini berkembang dengan sangat cepat dan teknologi pun berkembang dengan sangat pesat. Mulai dari teknologi mendengarkan music, memotret, hingga berinternet secara bertahap hadir dalam perangkat mobile device dan hingga saat ini beragam aplikasi mobile terus bermunculan dari para pengembang untuk mendukung pemanfaat secara maksimal dari mobile device[1].
Kehadiran aplikasi ini juga mendorong para pengembang bisnis akan kebutuhan aplikasi mobile bagi kepentingan bisnis. Informasi yang akurat dan cepat mengenai inventasi, harga saham, informasi pasar terkini adalah kebutuhan vital bagi mereka. Selain itu, dengan adanya aplikasi mobile maka tidak tertutup kemungkinan setiap orang dapat selalu terhubung dengan perusahaan atau konsumen atau rekan kerjanya setiap waktu. Interaksi yang selalu aktif dan dinamis ini adalah hal yang penting dalam berbisnis[2].
III. Masyarakat, Perangkat Mobile, dan Internet
Masyarakat dan perangkat mobile, khususnya telepon selular (handphone, PDA, smartphone, dll), adalah dua hal yang tidak dapat lagi dipisahkan saat ini. Hampir tidak dapat kita temui lagi seseorang yang tidak mempunyai telepon selular. Menjamurnya berbagai merek dan jenis telepon selular lokal dan global membuat para vendor berlomba – lomba menghasilkan produk yang dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Akibatnya, setiap orang kini dengan mudah dapat memiliki apa yang disebut telepon selular sebagai perangkat mobile pribadi.
Dimulai pada tahun 1990-an, telepon selular dan internet mulai menyatukan diri. Telepon selular tidak lagi sekadar device yang hanya dapat melakukan layanan – layanan pada umumnya, pesan singkat atau telepon sebagai fungsi utama, namun juga sudah dapat digunakan untuk mengakses internet layaknya seperti komputer di rumah. Hal ini kemudian menyebabkan perubahan ke era di mana akses internet dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Memasuki abad ke-20 ini, teknologi internet sendiri berkembang dengan sangat cepat sehingga pada akhirnya seluruh perangkat mobile dapat terhubung ke jaringan internet[3].

Banyak faktor yang mendukung pergerakan ke arah mobile internet hingga menjadi suatu trend saat ini. Yang pertama selain karena semakin mudahnya mendapatkan perangkat mobile juga karena trend social networking dan online shopping yang saat ini dieksploitasi besar – besaran oleh seluruh vendor. Sebut saja contoh paling paling sukses adalah Facebook. Di perangkat mobile mana lagi yang saat ini tidak dapat kita jumpai aplikasi Facebook di dalamnya. Online shopping pun sudah merubah pola belanja masyarakat di mana seseorang dapat dengan mudah membeli barang dari mana saja[3].
Faktor kedua adalah perlombaan antar operator telekomunikasi yang berusaha untuk menyajikan akses internet pada perangkat mobile dengan harga yang murah. Hal ini tentunya menggiurkan setiap orang yang memiliki perangkat mobile untuk dapat melakukan akses internet selain layanan – layanan dasar yang tentu dimilikinya. Jadi tidaklah heran jika saat ini setiap orang sudah dapat dengan mudah terhubung ke jaringan internet tanpa harus duduk diam di depan komputer rumah ataupun kantor[3].
Faktor ketiga yang mungkin adalah faktor utama penggerak mobile internet ini adalah kebutuhan masyarakat akan akses informasi dan internet secara cepat dan real-time. Pergerakan dunia semakin cepat dan terkadang waktu tidaklah terasa cukup jika semua hal harus dikerjakan secara mandiri dan konvensional, apalagi hal yang sifatnya mendesak dan penting. Dengan adanya akses internet melalui perangkat mobile maka masyarakat tentunya sangat terbantu untuk melakukan beberapa hal sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Segala kemudahan ini tentunya memiliki dampak yang sangat besar dalam perubahan tingkah laku seluruh masyarakat di dunia.
IV. Mobile untuk Bisnis
Mobile internet sudah menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan manusia tanpa terkecuali. Tingkat pengguna mobile internet sudah mencapai angka yang melebihi penggunaan internet pada komputer PC di beberapa Negara Eropa dan Asia, misalnya Jepang. Fenomena yang dimulai pada tahun 1990-an itu banyak merevolusi cara-cara berbisnis dan kemudian melahirkan the way of doing business. Inilah cara baru berbisnis yang dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja[4].
Jepang memulai pergerakan ini dengan meluncurkan i-Mode, yaitu suatu aplikasi mobile yang menawarkan layanan web browsing yang dapat menampilkan warna dan video sehingga kegunaannya sangat besar, seperti untuk m-banking, melakukan reservasi pesawat, melihat stok barang, mengirim dan menerima e-mail, dan kesemuanya itu adalah melalui jaringan internet. Hingga saat ini, i-Mode terus dipakai secara luas di seluruh dunia dan jumlah pemakainya diperkirakan mencapai hingga 51,6 juta user di Jepang dan 5 juta pengguna lainnya di seluruh penjuru dunia pada 31 Oktober 2011[5].
Dengan kehadiran i-Mode ini maka muncullah istilah baru dalam bidang bisnis dengan pemanfaatan mobile internet yaitu mobile business (m-business) atau yang sering dikenal dengan istilah mobile commerce (m-commerce). Definisi m-commerce menurut Ericsson adalah jasa transaksi terpercaya melalui mobile devices untuk pertukaran barang dan jasa antara konsumen, pedagang, dan institusi finansial. Saat ini, fungsi dari uang cash sudah mulai bergeser sedikit demi sedikit ke arah virtual money, baik dalam bentuk saldo bank (flash BCA dan kartu kredit) maupun pulsa operator yang kemudian dapat ditukarkan dengan uang cash di ATM[4].

Menurut Siemens, sistematika m-bussiness dibagi dalam enam kategori yaitu [4]:
- Mobile Commerce yang terdiri dari perbankan, perdagangan, pembelian, ticketing, perlelangan, travel management, dan lain-lain.
- Mobile Info-Service yang terdiri dari informasi cuaca, pasar modal, berita akses internet, jasa penetapan lokasi, dan lain sebagainya.
- Mobile Service yang terdiri dari jasa perbaikan, emergency, pengontrolan, serta jasa telemetika lainnya.
- Mobile Communication yang terdiri dari komunikasi suara, pesan-pesan, SMS, mobile multimedia, dan lain-lain.
- Mobile Entertainment yang terdiri dari hiburan musik, video, games, lotere, dan lain-lain
- Mobile Office yang terdiri dari email, penjadwalan, dan direktori.
Terdapat dua belas bidang usaha di Indonesia (dan di negara lain tentunya) yang saat ini sudah dapat menjalankan m-commerce yaitu : perbankan, asuransi, ritel, pengelolaan sistem pajak, jasa kurir, penerbangan, perhotelan, travel, pelayanan publik, media informasi dan hiburan, media massa, perdagangan saham, dan properti.
Dari kedua belas bidang usaha tersebut diatas, enam bidang usaha yang diprediksikan memiliki masa depan bagus untuk mempraktekkan m-commerce yaitu : perbankan (contoh : m-banking), penerbangan (airline reservation), perhotelan (hotel reservation), travel (travel reservation), layanan publik (pembayaran rekening listrik, telepon, air), dan media informasi dan hiburan (penjualan ringing tone, informasi jadwal bioskop). Keenam bidang ini dianggap memiliki tingkat penilaian yang baik dari sisi adopsi masyarakat, prospek bisnis, dan tingkat kompetisi.
Sedangkan keenam bidang lainnya yaitu : asuransi, ritel, pajak, jasa kurir dan distribusi, media massa, perdagangan saham, dan property dianggap belum cerah dimasa sekarang dikarenakan berbagai hal misalnya untuk perdagangan saham membutuhkan koneksi yang real-time, untuk memanfaatkan SMS sangat beresiko karena dikhawatirkan pesan tidak sampai pada tujuan. Disebut belum cerah karena kemungkinan berkembang masih terbuka luas. Meskipun demikian mungkin pula ada bidang usaha yang tidak akan berkembang dalam waktu yang lama.
V. Aplikasi Mobile untuk Bisnis di Indonesia
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa terdapat enam kategori bidang usaha yang saat ini memiliki perkembangan yang sangat bagus dalam m-commerce di Indonesia. Perkembangan ini tentunya didukung oleh karena adanya aplikasi mobile yang menjalankan ke-enam bidang usaha tersebut. Contohnya untuk bidang perbankan, BCA dengan klik-BCA dan CIMB Niaga dengan CIMB Clicks. Para program developer saat ini berlomba – lomba untuk menciptakan aplikasi mobile yang mendukung m-commerce untuk berbagai vendor mobile (iPhone, Blackberry, Android, dan Java). Hal ini juga yang membuat setiap orang yang memiliki perangkat mobile dapat melakukan m-commerce di manapun mereka berada.
Selain aplikasi mobile, beberapa perusahaan yang bergerak di bidang m-commerce juga mulai bermunculan, seperti MCI (Mobile Commerce Indonesia / http://mjob.m-ci.co.id/) dan PT. mCommerce Indonesia Jakarta. Selain menawarkan aplikasi mobile m-commerce sebagai komoditi dagang, mereka juga menawarkan jasa bantuan bagi para pengembang usaha yang ingin mulai menggunakan m-commerce. Kelebihannya, perusahaan – perusahaan ini mendukung hampir seluruh bidang usaha mulai dari skala kecil hingga ke skala besar. Bagi sebagian pelaku bisnis m-commerce di Indonesia, cara baru berbisnis yang disebut m-commerce ini diyakini kini sedang tumbuh dan terus berkembang di Indonesia. Hal ini terlihat jelas dengan terus bermunculannya berbagai inovasi m-commerce di dunia bisnis Indonesia. Inovasi-inovasi m-commerce itu dipandang merupakan peluang-peluang bisnis baru atau sumber pendapatan baru, baik di saat sekarang maupun di masa depan. Sebuah studi oleh MEF pada bulan Juni tahun 2011 menemukan bahwa 82% konsumen telah menggunakan ponsel mereka untuk melakukan pembelian. Produk yang paling sering dibeli adalah produk digital, meskipun banyak dari konsumen juga membeli tiket, buku, dan barang elektronik menggunakan ponsel mereka. Sementara Dalam hal mobile banking, 73% responden di Indonesia telah menggunakan mobile banking dibandingkan dengan 48% di Singapura dan 44% di India. 63% responden Indonesia telah mengirimkan airtime untuk orang lain. Proses ini mungkin lebih dikenal dengan mengirimkan pulsa telepon[8].

Contoh m-commerce seperti :
- Pembayaran tagihan melalui mobile phones
- Pengenalan suara melalui mobile phones untuk membeli karcis bioskop
- Pembelian tiket pesawat melalui mobile phones
- Transfer dana melalui mobile phones (mobile wallet)
- Trading saham melalui mobile phones
Keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan transaksi melalui m-commerce bagi suatu perusahaan :
1. Meningkatkan pendapatan dengan menggunakan online channel yang biayanya lebih murah.
2. Mengurangi biaya-biaya yang berhubungan dengan kertas, seperti biaya pos surat, pencetakan, report, dan sebagainya.
3. Mengurangi keterlambatan dengan menggunakan transfer elektronik/pembayaran yang tepat waktu dan dapat langsung dicek.
4. Mempercepat pelayanan ke pelanggan, dan pelayanan lebih responsif
VI. Analisa Kuisioner
Untuk membantu dalam menganalisis pengunaan m-commerce di Indonesia maka sebuah kuisioner telah kami buat dalam rangka pengumpulan data. Kuisioner ini berisi sejumlah pertanyaan yang menuntun setiap responden untuk sedikit mengetahui mengenai m-commerce dan sebagai timbal-balik kami mengetahui mengenai data penggunaan m-commerce mereka.
Secara mayoritas, responden kami berumur antara 17-25 tahun dan hanya satu responden yang berumur di atas 36 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa responden kami kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa hingga fresh graduate dan para pekerja awal. Hal ini bukanlah menjadi masalah karena saat ini pun banyak mahasiswa maupun para pekerja yang sudah mulai berbisnis dan memanfaatkan m-commerce.

Pie-chart di atas menunjukkan persentase pengguna smartphone dari responden kami. Dari gambar menunjukkan bahwa 85% responden kami adalah pengguna smartphone dan sisanya adalah bukan pengguna smartphone (pengguna handphone). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini sudah mengadopsi tingkat teknologi yang tinggi, dalam hal ini pemilihan perangkat mobile mereka. Hal ini sebenarnya bukanlah menjadi masalah yang berhubungan secara langsung dengan m-commerce karena baik handphone maupun smartphone dapat menjalankan m-commerce dengan baik.

Bar-chart di atas menunjukkan tingkat penggunaan perangkat mobile untuk keperluan m-commerce. Terlihat bahwa bar yang paling tinggi adalah bar yang menunjukkan “tidak pernah”, kemudian “sering” dan “jarang”. Hal ini mungkin saja terjadi karena selain responden kami kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa dan fresh graudate, juga karena kurangnya pemahaman atau ketidak-tahuan mereka mengenai m-commerce sehingga memilih “tidak pernah”. Namun jumlah pemilih kategori “jarang” dan “sering” pun sudah banyak dan hal ini menunjukkan bahwa tingkat penggunaan m-commerce di kalangan masyarakat Indonesia sudah cukup tinggi.

Dari bar-chart di atas telihat bahwa jenis layanan yang paling banyak dipakai oleh responden kami adalah chatting, browsing, dan e-mail. Meskipun bentuknya yang sederhana namun sebenarnya layanan inilah yang merupakan layanan pokok dalam m-commerce. Chatting dan e-mail menjadikan komunikasi antar pihak – pihak yang terlibat dalam suatu bisnis menjadi semakin real-time dan akurat, sedangkan informasi dan kabar terbaru mengenai suatu bisnis dapat langsung didapatkan melalui browsing. Dan kesemuanya jenis layanan di atas terhubung ke jaringan internet sebagai jaringan global bagi siapa saja.

Bar-chart di atas menujukkan jenis aplikasi yang paling sering digunakan oleh responden kami. Karena jenis layanan yang paling banyak digunakan adalah chatting maka aplikasi yang paling sering digunakan pun adalah BBM atau MSN atau Yahoo messenger. Kemudian untuk layanan browsing digunakan IE atau Opera, dan untuk layanan e-mail digunakan Hotmail atau Yahoo mail. Dan untuk beberapa responden juga menggunakan jejaring social (Facebook atau Twitter) dan Mobile trading. Apapun bentuk aplikasinya itu semua memiliki tujuan yang sama yaitu untuk melakukan m-commerce. Dapat ditarik kesimpulan bahwa responden kami menggunakan cara – cara yang umum dilakukan untuk menjalankan bisnis mereka.
Bar-chart di atas menunjukkan lamanya waktu yang dihabiskan oleh responden kami untuk memakai aplikasi – aplikasi yang telah disebutkan di atas. 1-3 jam adalah durasi waktu yang paling banyak dipilih, kemudian di bawah 1 jam, di atas 5 jam, dan antara 3-5 jam. Hal ini menunjukkan ketergantungan mereka akan layanan dan aplikasi m-commerce yang digunakan. Waktu yang mereka pergunakan adalah waktu yang cukup lama bagi seseorang pebisnis dan hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan mereka akan m-commerce sudah merupakan kebutuhan vital yang tidak dapat dipisahkan lagi.
Selain itu, beberapa responden juga memberikan masukan tentang harapan mereka akan aplikasi m-commerce yang akan muncul ke depannya, seperti online reservation, aplikasi bisnis all-in-one, transaksi online yang aman, broadcast and show katalog produk barang, aplikasi pemantau CCTV yang terhubung dengan mobile, serta aplikasi trading saham yang cepat dan akurat.
Dari keseluruhan hasil kuisioner kami maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia akan m-commerce sudah menjadi suatu kebutuhan pokok bagi para pebisnis. Penggunaan m-commerce tidak terbatas pada usia dan jenis usahanya. Dengan bantuan dari m-commerce maka waktu dan kesempatan bagi para pebisnis menjadi semakian bertambah lebar dan dengan demikian dapat memajukan perekonomian Indonesia. Dan kesempatan ini masih terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mengembangkan atau menggunakan m-commerce.
VII. Contoh Aplikasi Mobile untuk Bisnis
Evernote, adalah aplikasi asisten pengatur jadwal pribadi di mana kita dapat menghubungkan antara gambar (foto atau screen-shoot) dengan jadwal kegiatan dan pada waktunya Evernote akan mengingatkan kita melaui pesan singkat
iTerminal (credit card Terminal), adalah suatu aplikasi yang memungkinkan pembayaran dengan kartu kredit melalui iPhone. Dengan memanfaatkan jaringan internet, pengguna hanya memasukkan nomor kartu kredit dan hasilnya akan segera keluar.
Analytisc App, seperti Google Analytics pada PC, adalah aplikasi yang memungkinkan pemilik perusahaan dapat dengan segera mengetahui perkembangan situs perusahaan mereka dan mendapatkan 47 macam laporan yang dibutuhkan dari Google Analytics.
Document to Go, seperti namanya adalah aplikasi Office mobile di mana fungsi mengubah maupun menambahkan berbagai file Office dapat dilakukan (M.Word, M.Excel, M.Ppt, dan melihat file PDF).
AK Notepad, adalah aplikasi mobile notes on the go. Seperti Sticky notes, user dapat menuliskan catatan – catatan penting sebagai pengingat dan dapat menyetel alarm sebagai peringatan sesuai pada waktunya.
ServerUp, adalah aplikasi mobile bagi para engineer IT yang ingin mengatur server mereka melalui jaringan internet (3G atau Wi-Fi). Dengan ServerUp, memeriksa dan mengatur server dari mana saja bukanlah menjadi masalah lagi.
Siapa yang tidak mengenal Blackberry Messenger. Aplikasi satu ini telah menjadi aplikasi yang paling digandrungi oleh pemakai Blackberry dan dengan fungsi chat-nya yang real-time maka urusan bisnis pun dapat berjalan dengan lancar.
Dropbox, adalah aplikasi mobile yang memungkinkan pengguna untuk mengakses file dalam ukuran yang besar tanpa harus menyimpannya dalam perangkat mobile. File tersebut disimpan dalam cloud-computing dan karena itu dapat diakses dari mana saja.
Wifi File Transfer, adalah aplikasi mobile yang memungkinkan suatu Blackberry untuk mengirimkan file ke perangkat lainnya (Blackberry, PC, atau MAC) yang berada dalam satu area Wifi yang sama.
Facebook Mobile, adalah aplikasi mobile untuk menjalankan Facebook. Saat ini hampir tidak adalah perangkat mobile yang tidak memiliki aplikasi ini. Melaui Facebook, kita dapat memposting bisnis kita dan menarik customer serta menjalin relasi dengan customer.
WorldCard Mobile, adalah aplikasi mobile yang memanfaatkan kamera pada handphone untuk mengambil gambar dari kartu bisnis seseorang dan memasukkannya secara langsung pada kontak orang tersebut.
Rebtel, adalah aplikasi mobile yang sangat berguna bagi para pebisnis yang sering bepergian. Ketika seseorang berada di negara lain dan ingin menelpon, maka Rebtel akan secara otomatis memberikan nomor lokal dan harga yang harus dibayarkan adalah harga lokal.
VII. Dampak Positif dan Negatif M-Commerce
Secara sekilas, m-commerce memberikan banyak sekali manfaat dan keuntungan bagi para penggunanya. Namun setiap teknologi pasti memberikan dua macam dampak, yaitu dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif sangat menolong bagi masyarakat, sebaliknya dampak negatif sebaiknya dihindari atau diperbaiki.
Dampak positifnya dari m-commerce yaitu[6]:
1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih menjanjikan yang tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
2. Dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar).
3. Menurunkan biaya operasional(operating cost).
4. Melebarkan jangkauan (global reach).
5. Meningkatkan customer loyality.
6. Meningkatkan supplier management.
7. Memperpendek waktu produksi.
8. Meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).
Sebaliknya, dampak negative dari m-commerce yaitu[6]:
1. Kehilangan segi finansial secara langsung karena kecurangan. Seorang penipu mentransfer uang dari rekening satu ke rekening lainnya atau dia telah mengganti semua data finansial yang ada. Karena itu sistem keamanan menjadi nomor satu dalam m-commerce
2. Pencurian informasi rahasia yang berharga. Gangguan yang timbul bisa menyingkap semua informasi rahasia tersebut kepada pihak-pihak yang tidak berhak dan dapat mengakibatkan kerugian yang besar bagi si korban.
3. Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan. Kesalahan ini bersifat kesalahan non-teknis seperti sinyal drop atau kapasitas SMS load.
4. Kerugian yang tidak terduga. Disebabkan oleh gangguan yang dilakukan dengan sengaja, ketidakjujuran, praktek bisnis yang tidak benar, kesalahan faktor manusia, kesalahan faktor manusia atau kesalahan sistem elektronik pada mesin.
Daftar Pustaka
[1] http://www.articleclick.com/Article/Emergence-Of-Mobile-AppDevelopment/1872317
[2] http://www.khlinteractive.com/the-emergence-of-mobile-business-apps/
[3] http://dailysocial.net/2009/12/29/2010-tahunnya-mobile-internet/
[4] http://rplhadea.wordpress.com/apa-itu-j2me/
[5] http://searchnetworking.techtarget.com/definition/i-Mode
[6] http://mjob.m-ci.co.id/
[7] http://www.mobile88.co.id/editorial/detail.asp?title=Menggerakkan-Kembali-Potensi-Mobile-Commerce&id=74
[8] http://dailysocial.net/2011/10/11/adopsi-mobile-commerce-semakin-luas/
[9]http://www.pcworld.com/businesscenter/article/169587/top_10_musthave_iphone_business_apps.html
[10]http://www.pcworld.com/businesscenter/article/192721/10_musthave_android_apps_for_business.html
[11] http://www.smarta.com/blog/2011/11/5-best-blackberry-business-apps
[12] http://www.channelpro.co.uk/advice/6091/11-best-symbian-apps